My Idol Fanfic

BEFORE MARRIED 1.4

BEFORE WEDDING (1)

Gambar

Title                             : Before Wedding

Author                         : Dhie

Main Cast                    : Choi Minho, Kim Nara, Jung Soojung

Support Cast               : Shinee member

Length                         : Sequel

Genre                          : Konflik, Marriage Life

Rating                         : PG-15

NB                              :

Ini FF yg ketiga yang aku kirim ke blog tercinta dan favorit ini. So…happy reading and please give your support with your comment. Oh iya ini semua pakai AUTHOR POV ya..! ^_^ Sorry for typo guys. Thank.

“Nara-ya….menikahlah denganku!” tiba-tiba Minho dengan wajah serius mengatakan hal tersebut. Saat ini Choi Minho tengah menyantap makan malam bersama dengan kekasihnya Kim Nara di restoran Jepang favorit mereka.

Ucapan Minho ini membuat Kim Nara terkejut. Mengapa tiba-tiba kekasihnya, Choi Minho melamarnya. Tentu saja hal yang seperti ini adalah sesuatu yang sangat ia harapkan. Siapa yang akan menolak jika sang kekasih melamar dan mengatakan kalau ingin bertanggung jawab atas hidup seorang wanita sepertinya. Tentu saja semua wanita setuju akan pendapat semacam ini. Tapi tunggu dulu, ada hal yang tak dimengerti oleh Kim Nara saat ini. Choi Minho mengatakan belum ingin menikah dalam waktu dekat ini. Lalu mengapa tiba-tiba dia mengatakan hal semacam itu pada Kim Nara.

“Minho-ya, kau sadar dengan apa yang kau ucapkan?” Kim Nara mengernyitkan dahinya tak mengerti sama sekali dengan ucapan Minho.

“Nara-ya, aku mencintaimu sampai detik ini. Aku yakin kau juga memiliki perasaan yang sama denganku bukan? Jadi apa salahnya kalau aku melamarmu? Apa aku salah?” kali ini gantian Minho yan tak mengerti mengapa Kim Nara menanyakan hal seperti itu.

“Bukan begitu maksudku. Baru-baru ini kau katakan padaku kalau kau belum ingin cepat menikah. Jadi aku sedikit terkejut kalau kau tiba-tiba berbicara seperti itu, Minho-ya”

“Umma ingin segera menimang cucu dariku. Jadi dia menyuruhku untuk segera menikah sebelum aku dijodohkan oleh wanita pilihannya,” Minho menjelaskan dengan nada kesal.

“Tapi buatku ini terlalu mendadak, Minho-ya. Walaupun kata-kata yang baru saja kau lontarkan  tadi adalah keinginanku, tapi aku rasa terlalu cepat untuk merencanakan pernikahan. Dan aku ataupun dirimu belum pernah menemui masing-masing dari orang tua kita.”wajah Kim Nara mendadak berubah serius.

“Aku akan segera menemui orangtuamu, dan begitu juga dengan dirimu. Jadi kau pilih mana? Segera menikah denganku atau kau harus merelakan kekasihmu yang tampan ini dinikahkan dengan wanita lain?” kali ini Minho menunjukkan wajahnya yang innoncent.

“Tentu saja pilihan kedua adalah sesuatu yang sangat ku benci Minho-ya. Baiklah akan kupikirkan kalau kau memaksa.”

$ $ $

Walaupun untuk Kim Nara ajakan Minho untuk menikah adalah suatu hal yang tiba-tiba tapi dia tetap tak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya. Bisa dibilang saat ini hatinya benar-benar sedang bermekaran. Bagaimana tidak, seorang Minho yang tampan, baik hati dan tentu saja pria yang dicintainya itu telah melamarnya.

Baru seminggu yang lalu Kim Nara dan Choi Minho merayakan fourth anniversary mereka menjadi kekasih. Ya begitulah, mereka telah menjalin hubungan kekasih selama empat tahun sejak keduanya sedang sama-sama kuliah di universitas yang sama namun berbeda fakultas. Choi Minho menempuh studi di fakultas kedokteran sedangkan Kim Nara di fakultas Psikologi. Sekarang keduanya sudah sama-sama bekerja. Tentu saja Choi Minho menjadi seorang dokter di rumah sakit terkenal di Seoul dan Kim Nara menjadi pegawai HRD (Human Resource Development) di perusahaan pamannya.

Usia keduanya saat ini sama-sama telah memasuki 24 tahun. Masih tergolong muda memang, namun merupakan usia yang sudah cukup matang untuk menikah. Kim Nara benar-benar sedang memikirkan tawaran Minho untuk menikah dan hidup bahagia menjadi suami istri. Haruskah ia menerimanya? Dan dia akan menjadi nyonya Choi dan hidup menjadi wanita yang bahagia karena menikahi pria yang sudah lama dicintainya. Atau ia harus menolak dengan alasan belum siap untuk menikah? Tapi rasanya pilihan pertama adalah hal yang benar-benar ingin ia wujudkan. Baiklah, sepertinya besok Kim Nara harus mengunjungi ibunya dan mendiskusikan hal tersebut. Kebetulan besok adalah hari minggu dan ia libur bekerja.

$ $ $

Choi Minho dan keluarga sedang menikmati sarapan pagi bersama di ruang makan. Semuanya lengkap dan tak ada satupun yang tak ada di meja makan. Ayah dan Ibu Minho, adik laki-laki Minho Choi Min Woo, kakak perempuan Minho Choi Min Hwa beserta kakak iparnya Lee Jinki dan Choi Minho sendiri. Situasi makan bersama seperti saat ini sangat langka terjadi. Biasanya di hari kerja, semua akan sibuk masing-masing dengan pekerjaannya. Ayah Minho yang juga seorang dokter selalu pergi pagi-pagi bersama dengan Minho, kakak perempuan Minho yang sibuk mengurus butiknya juga akan meninggalkan rumah bahkan sebelum Minho pergi ke rumah sakit, sedang suaminya juga bekerja sebagai manajer di perusahaan penerbitan buku yang selalu pulang malam, Choi Min Woo sibuk sekolah di SMA dan tinggal ibu Minho yang akan tinggal di rumah sepanjang hari sambil menulis karena ibu Minho adalah seorang penulis.

“Jadi kapan kau akan segera menikah, Minho-ya?” Tanya ibunya membuka pembicaraan pagi ini.

Minho tersedak dan segera mengambil air minum dan meminumnya. “Umma, kenapa terus memaksaku untuk segera menikah? Aku ini kan masih muda dan masih ingin berkarir”, jawab Minho membela diri. “Tapi kalau umma terus memaksaku seperti ini, baiklah aku akan segera menikah”

Semua mata kali ini menuju ke arah Minho. Bagaimana mungkin seorang Minho yang di keluarganya di kenal tidak pernah dekat dengan wanita dan tidak pernah mengajak seorang wanita pun untuk diiperkenalkan ke rumah bisa menyetujui paksaan ibunya untuk segera menikah.

“Memangnya kau sudah punya seorang wanita untuk dinikahi?” Tanya Choi Min Hwa sontak membuat semua orang tertawa.

“Iya hyung, aku bahkan tidak pernah melihatmu mengajak wanita ke rumah atau kau pergi kencan dengan seorang wanita”, kali ini si bungsu menimpali.

“Memangnya kalau aku pergi kencan harus lapor padamu?” Minho terlihat kesal.

“Kalau kau punya seorang wanita untuk dinikahi, kami semua akan menunggumu untuk membawanya kemari.”, ayah Minho ikut bicara.

“Dan kalau kau tidak memiliki wanita untuk dinikahi…..”

“Ibu akan menjodohkanmu dengan wanita pilihan ibu”, Choi Min Hwa dan Choi Min Woo serentak mengucapkan kata-kata ibu mereka yang selalu mereka dengar. Dan semua kembali tertawa.

“Kalian ini, baru ibu mau bilang begitu!” protes ibu.

“Harusnya ibu lebih kreatif membuat kata-kata yang beda setiap harinya, agar susah untuk diikuti”, ujar Choi Min Woo yang langsung melahap makanannya.

“Besok malam akan kubawa dia ke rumah”, ujar Minho.

“Benarkah? Apakah dia cantik? Aku harap tidak lebih cantik istriku,” Lee Jinki ikut berbicara sambil melirik Choi Min Hwa strinya dengan tatapan cinta yang disambut senyum nakal oleh istrinya.

“Dia akan menjadi yang paling cantik di rumah. Noona lewat, bahkan ibu juga lewat!” Minho dengan bangga mengatakannya.

“Baiklah, kita akan menunggu kehadirannya,”ujar ayah Minho.

$ $ $

“Aku pulang….!” Seru Kim Nara sesampai di rumah ibunya.

Kim Nara sengaja pulang ke rumah orangtuanya di Busan untuk membicarakan lamaran Minho yang ingin menikahinya dalam waktu dekat. Kim Nara hanya memiliki seorang ibu dan seorang kakak laki-laki bernama Kim Junsu. Ayahnya Nara sudah sangat lama meninggal sejak ia lahir ke dunia.

“Halo umma, sedang masak apa?” Kim Nara langung menemui ibunya di dapur.

“Seperti yang kau lihat sayang, Umma memasak nasi goreng kimchi kesukaanmu”

“Umma tahu saja apa yang kuinginkan. Junsu oppa? Dimana dia?”, Tanya Nara dan matanya melihat-lihat menelusuri rumahnya.

“Katanya akan menemui teman sebentar. Ayo makan, ini masakan umma sudah jadi. Kau pasti lapar kan?”

Kim Nara dan ibunya menuju meja makan dan segera menyantap nasi goring kimchi yang tentu saja sangat lezat.

“Umma, jika aku mengatakan akan menikah. Bagaimana denganmu?” Kim Nara langsung membicarakan apa yang ingin dibicarakannya.

Ibunya mengentikan kegiatan makannya. Memandang anak perempuan satu-satunya itu. “Tentu saja umma sangat senang. Seorang wanita pasti akan menikah.”

“Begitukah? Kalau aku katakan akan menikah dalam waktu dekat ini, bagaimana?”

“Ya…Nara-ya! Apa kau hamil?” Tanya ibunya dengan nada bicara yang diturunkan.

“UMMA! Memangnya aku terlihat seperti itu?”protes Nara dengan nada tinggi.

“Lalu? Kenapa kau tiba-tiba membicarakan pernkahan pada umma?”

“Pacarku kemarin melamarku. Walaupun terkesan mendadak, aku rasa tidak masalah bukan kalau aku menikah di usia sekarang!”

“Kau yakin, Nara-ya? Pacarmu kerjanya apa?”

“Namanya Choi Minho, dia seorang dokter di Seoul”, jawab Kim Nara.

“Dokter? Kau yakin akan menikah dengan seorang dokter? Apa kau tahu mereka hampir tak punya waktu untuk istirahat di rumah? Bagaimana nanti kalau kau merasa kesepian ?” Ibu Nara mulai terlihat cemas.

“Umma, aku mencintainya. Dan aku akan belajar memahami bagaimanapun keadaannya. Dia kan bekerja juga untukku dan anak-anak kami nanti.” Kim Nara menjelaskan. “Kalau aku merasa kesepian kan aku bisa menelepon umma. Iya kan?”

Mata ibu Kim Nara mulai berkaca-kaca. Dia tak menyangka kalau dirinya sudah harus bisa melepas anak-anaknya untuk bahagia bersama dengan orang-orang yang anaknya cintai dan menciptakan suatu hubungan keluarga yang harmonis nantinya. Mungkin memang sudah datang masa untuk anak-anaknya menjadi dewasa dengan membangun keluarganya sendiri. Walaupun ibu Kim Nara berusaha keras untuk menahan air matanya untuk jatuh, namun teta saja ada airmatanya tak mau berkompromi. Sedikit demi sedikit airmatanya mengalir.

Tentu saja Kim Nara merasa khawatir dengan ibunya yang mulai mengeluarkan air mata. Apakah ini terlalu cepat untuk ibunya?

“Umma, aku mohon jangan menangis! Aku pasti tetap akan mengunjungimu,” Kim Nara meraih tangan ibunya dan menggenggamnya erat.

“Tentu saja kau tetap harus datang mengunjungiku!” Ibu Kim Nara mengusap air matanya. “Nara-ya, apapun pilihanmu umma pasti mendukung. Kau harus hidup bahagia bersama suamimu. Kau mengerti?”

“Iya umma. Aku akan hidup bahagia untukmu.”

$ $ $

“Halo…Minho-ya! Kau bisa menemaniku tidak hari ini?…..apa?….Aku bosan ingin keluar. Kalau kau senggang, aku harap kau mau menemaniku. Oke…..baiklah….aku tunggu di kafe biasa ya…!”

“Choi Minho?”

“Hmm….!”

“Apa kau benar-benar menyukainya, Soojung-a?”

“Entahlah…aku masih bingung dengan perasaanku. Aku selalu saja ingin melihatnya, tidak melihatnya sehari saja rasanya aku kalut. Awalnya aku menganggap dia hanya motivatorku untuk bekerja lebih giat sebagai dokter. Tapi kurasa tidak begitu, aku ingin selalu berada di sampingnya dan menatap wajahnya yang teduh itu.” Jung Soojung masuk ke dalam kamar lalu keluar lagi dan sudah berganti pakaian. “Eunha-ya, menurutmu apa aku sedang jatuh cinta?”

Sahabat Soojung, Hwang Eunha yang sedang asyik menonton televisi menoleh ke arah Soojung. “Sepertinya begitu. Kau sedang jatuh cinta pada Choi Minho, Soojung-a. Dia belum punya pacar?”

“Sudah. Aku dengar mereka akan segera menikah,”jawab Soojung santai seraya memilih sepatu yang pantas untuk dia kenakan.

“Benarkah?” Hwang Eunha terkejut. “Kau sudah tahu dia memiliki pacar, tapi kau tetap menyukainya?”

“Eunha-ya sebelum janji pernikahan terucap, aku masih punya kesempatan bukan?”

“Ya Jung Soojung…! Aku rasa kau benar-benar sudah tidak waras!”

“Aku juga merasa begitu, Eunha-ya. Aku rasa aku benar-benar akan gila mencintai Choi Minho. Aku pergi dulu!” Jung Soojung membuka pintu dan keluar dari apartemennya berjalan menuju tempat parker mobilnya.

“Ya..! Soojung-a sadarlaaahh!” teriak Eunha.

$ $ $

Waktu menunjukkan pukul 16.00 KST di Busan. Butuh waktu 2 jam untuk kembali ke Seoul dengan menggunakan KTX. Dan itu berarti Kim Nara kira-kira akan sampai di Seoul pukul 18.00 KST. Dia sudah meminta Minho untuk menjemputnya di stasiun.

Berat rasanya meninggalkan ibunya sendiri di rumah. Walaupun ada kakak laki-lakinya yang tinggal bersama ibunya, Kim Nara tetap khawatir karena kakaknya selalu pulang telat ke rumah. Ibunya terliht semakin tua walaupun masih terlihat sangat kuat untuk orang seusianya. Ibu Kim Nara kini telah berusia 51 tahun. Dan sampai saat ini belum ada dari kedua anaknya yang menikah dan memberikan seorang cucu pada ibunya. Keinginan Kim Nara untuk menikah juga berdasarka pemikiran itu. Setidaknya menikah dan memberikan ibunya cucu akan menambah kebahagiaan ibunya.

“Oppa, kau harus menjaga umma dengan baik!” ujar Kim Nara sebelum naik kereta menuju Seoul.

“Tentu saja aku akan menjaga umma. Kau tidak usah khawatir! Pikirkan saja pekerjaanmu di Seoul!” kata kakak Kim Nara, Kim Junsu.

“Umma, aku pergi dulu. Umma harus selalu jaga kesehatan dan makan yang banyak.” Kim Nara memeluk ibunya seerat mungkin. Dia ingin berlama-lama di sisi ibunya. Kalau saja dia tidak memiliki pekerjaan yang menunggu, dia pasti akan memilih tinggal di Busan lebih lama lagi.

“Hati-hati di jalan! Kau harus segera membawa calon suamimu ke rumah. Arraseo?”

“Aku pasti akan membawanya. Umma tenang saja,” Kim Nara tersenyum.

“Wah..wah….ada yang tidak beres ini. Kenapa kalian tiba-tiba membicarakan calon suami Nara. Nara-ya apa kau akan menikah?” Tanya Kim Junsu tak mengerti.

Kim Nara dan ibunya tertawa.

“Salah siapa adikmu datang malah kau tinggal pergi. Kan kau jadi ketinggalan berita oppa!” komentar Kim Nara.

“Aku tadi pergi karena urusan pekerjaan. Kau pikir aku yang mau pergi di hari libur begini? Jadi kau benar akan menikah? Dengan siapa?”

“Nanti akan umma ceritakan. Kau tidak usah banyak Tanya. Adikmu akan segera naik kereta,”cetus ibu mereka.

“Baiklah kalau begitu. Aku jadi tidak sabar ingin melihat adik iparku. Indra keenamku berkata kalau aku tetap lebih tampan dari calon suamimu itu. Siapa namanya, Nara-ya?”

“Choi Minho, oppa. Dan yang pasti dia jauh lebih tampan darimu. Aku pergi!” Kim Nara berlari masuk ke dalam kereta yang akan membawanya ke Seoul.

“Dasar anak nakal! Hati-hati di jalan!!” teriak Kim Junsu.

Kim Junsu dan ibunya melambaikan tangan menyertai kepergian Kim Nara dengan senyuman sayang.

$ $ $

“Sudah lama menunggu?” Tanya Minho yang baru saja datang.

“Kurang lebih 15 menit,” jawab Jung Soojung.

“Jadi, kau ingin kemana? Aku hanya punya waktu sampai jam enam, karena Nara memintaku untuk menemputnya di stasiun.” Kata Minho.

“Aku sedang ingin jalan-jalan ke pameran lukisan. Aku punya dua tiket masuk. Kebetulan salah satu pelukisnya adalah temanku. Bagaimana? Kau suka kalau kita ke pameran lukisan?”

“Baiklah. Ayo kita pergi!”

Choi Minho dan Jung Soojung berjalan bersama menuju tempat mobil mereka diparkir. Mereka akan menggunakan mobil Minho.

“Minho-ya, aku dengar kau akan segera menikah?” Tanya Soojung dalam perjalanan mereka.

“Kau mendengarnya dari siapa, Soojung-a? Sebenarnya aku akan memberitahumu nanti, kalau Nara sudah menyetujui untuk menikah denganku dalam waktu dekat.” Jelas Minho dan tetap focus menyetir.

“Kau yakin akan menikahi Kim Nara?”

“Maksudmu?” pertanyaan Soojung sukses membuat Minho menolehkan kepalanya ke arah Soojung.

“Bukan, maksudku apa kau yakin kau akan menikahi Kim Nara? Apa kau benar-benar mencintainya?”

“Tentu saja!” jawab Minho mantap sambil tersenyum. “Aku sangat mencintainya. Soojung-a, kau juga harus mencari pria yang bisa kau cintai!”

“Apa?”

“Aku bilang kau harus menemukan seorang pria yang bisa kau cintai, agar kau tidak terus merepotkanku untuk menemanimu.”

Jung Soojung terdiam. Hatinya benar-benar terbakar saat ini. Bagaimana tidak, disaat dirinya mulai mencintai seorang pria, pria tersebut tidak memberikannya kesempatan sekalipun. Pria itu sudah akan menikah. Pria yang dicintainya akan menikahi wanita lain. Apakah mencintai seseorang rasanya sesakit ini? Bukankah harusnya mencintai itu membuat bahagia?

“Soojung-a..! Ya…kenapa kau terdiam? Apa kau tersinggung? Aku hanya bercanda dengan perkataanku yang tadi. Kau bisa merepotkanku kapan saja disaat aku memang bisa untuk kau repotkan.” Minho sedikit merasa tidak enak takut kalau perkataannya yang tadi menyinggung Jung Soojung.

“Tidak. Aku tidak tersinggung. Aku ini sudah kebal dengan celotehnmu.” Soojung memaksakan diri untuk tersenyum.

Pameran lukisan yang mereka kunjungi saat ini sangat ramai oleh pengunjung. Walaupun ramai, keadaanya tertib sehingga tidak membuat keributan. Minho dan Soojung segera masuk ke dalam gedung yang penuh dengan lukisan-lukisan yang indah dan penuh warna. Ternyata seorang pria sudah menunggu kedatangan Jung Soojung.

“Annyeong, Taemin oppa!” seru Soojung dengan senyumnya yang manis.

“Soojung-a, kukira kau tidak akan datang.” Ujar Taemin,

“Bagaimana bias aku tidak dating ke pameranmu, oppa!”

“Annyeong Haseyo!” sapa Minho.

“Annyeong Haseyo!” balas Taemin.

“Oppa, perkenalkan ini Choi Minho rekan kerjaku di rumah sakit. Dan Minho, perkenalkan ini Taemin Oppa, Lee Taemin, dia adalah oppa terbaikku.” Soojung memperkenalkan mereka berdua.

“Hmm…jadi ini Choi Minho yang kau ceritakan? Kalian pacaran?” Tanya Taemin tiba-tiba.

“Tidak. Kami hanya teman dekat.” Jawab Minho tegas namun tetap ramah.

Jung Soojung sengaja tak menjawab. Dia ingin mendengar langsung dari Minho apa yang akan menjadi jawaban dari pertanyaan Lee Taemin tadi. Ternyata dirinya hanya dianggap sebagai teman dekat. Baiklah….suatu saat pasti bias menjadi lebih dari teman dekat.

“Oh begitu….ayo akan ku ajak kalian untuk berkeliling!” Taemin berjalan bersama keduanya dan sambil menjelaskan secara detil lukisan-lukisan yang ada di ruangan tersebut.

$ $ $

Kurang lebih dua jam perjalanan ditempuh Kim Nara dari Busan ke Seoul dengan menggunakan KTX. Nara segera menuju ruang tunggu dan berharap Minho ada di sana menunggunyaa. Matanya mencari-cari sosok Minho, namun orang yang dicari tidak ada di ruang tunggu. Kim Nara meraih ponsel dari dalam tasnya lalu menelepon Minho. Aktif, namun tidak ada jawaban. Tiga kali Nara mencoba menghubungi Minho namun hasilnya sama saja, Minho tidak menjawab teleponnya. Kim Nara duduk di kursi yang disediakan di ruang tunggu dan terus menghubungi Minho.

$ $ $

Ponsel Minho di dalam kanton terus berdering. Ia benar-benar dalam keadaan tak bisa menjawab ponselnya. Saat ini ia sedang menggendong Soojung di atas punggungnya dan sedang dalam perjalanan menuju apartemen Soojung di lantai 25. Tadi ketika keduanya sedang asyik mengelilingi pameran, Soojung terjatuh dan pingsan begitu saja. Tentu saja ini adalah kewajiban Minho untuk mengantar Soojung pulang.

Minho meraih jari telunjuk Soojung dan ditempelkan untuk membuka pintu kamarnya. Minho membawa Soojung masuk ke dalam kamarnya lalu merebahkan tubuh Soojung yang sempat membuat Minho merasa tulangnya akan patah satu-persatu.

“Kelihatannya saja kau kurus, Soojung-a. Ternyata kau cukup berat,” keluh Minho sambil sedikit memijat bahu dan punggungnya.

Minho meraih ponsenya, dan ada 12 panggilan telepon dari Kim Nara. “Astaga! Apa yang sudah kulakukan? Harusnya aku sekarang menjemput Nara di stasiun.” Minho menepuk kepalanya sendiri. Sebelum pergi, Minho melepaskan sepatu Soojung dan menyelimutinya. Dan ketika baru akan berbalik, langkah Minho terhenti karena Soojung meraih dan menggenggam tangan Minho sangat kuat.

“Tak bisakah kau tinggal disini lebih lama?” ucap Soojung yang sudah dalam keadaan duduk di atas ranjangnya.

“Soojung-a, kau sudah bangun? Aku minta maaf, aku harus pergi menemput Nara di stasiun. Nanti kalau kau butuh sesuatu, kau bisa telepon aku!”

“Apa Nara begitu penting untukmu?” Tanya Soojung dengan mata yang nanar.

TBC

Iklan

Tentang dhiepie

Seorang Mahasiswa yang terus berjuang untuk lulus...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s