My Idol Fanfic

choi_minho_by_sf224-d5qdcp3

MISSING YOU

 

Title                   : Missing You

Author              : Dhie

Main Cast        : Choi Minho, Shin Min Tae

Support Cast   : Shinee’s member.

Length             : One Shot

Genre              : Sad

Rating             : General

N.B                 : Mencoba membuat FF one shot…! Selamat membaca chingu…jangan lupa saran dan masukannya ya! Kamsahamnida!

 

Foto itu terus dipandanginya. Masih tersimpan rapi di dalam sebuah album yang cantik. Kenangan yang begitu berharga baginya, kenangan dirinya waktu masih ABG ketika SMP kelas VIII kira-kira 5 tahun yang lalu.

Ada satu foto yang selalu membuatnya tersenyum, foto dirinya bersama seseorang yang pernah menarik perhatiannya. Shin Min Tae, seseorang yang hilang entah kemana dan sampai sekarang pun masih dirindukannya dan disimpan pemberiannya bukan…lebih tepatnya dititipkan karena ketika akan dikembalikan pada pemiliknya Min Tae, ia dan keluarganya sudah pindah alamat. Dan barang titipan itu adalah sebuah sapu tangan yang selalu tertata rapi di lemari.

$ $ $

Ketika itu dirinya di masa SMP sedang menangis di perpustakaan karena membaca cerita yang begitu menyayat hati, kisah anak yang ditinggal orangtuanya karena kecelakaan. Walaupun ia terlahir sebagai seseorang yang berjenis kelamin laki-laki, namun hatinya mudah sekali tersentuh dengan sesuatu yang menyedihkan.

“Ya Kau! Kau Choi Minho bukan? Daritadi aku mendengar orang menangis dan itu menggangguku. Kau sedang baca apa sih? Orang yang dikatakan tampan, cool, keren bias menangis juga? Apa kata fans-fansmu kalau melihatmu menangis seperti anak kecil seperti itu?”, ujar gadis manis itu asal.

Setelah yakin dengan buku yang dilihatnya dan tahu apa judulnya, ia kembali menatap pada pria kecil yang tampan itu, “Begitu saja kau menangis, cengeng sekali ! Aku saja yang udah baca sampai 10 kali tidak pernah menangis! Bahkan aku adalah seorang perempuan yang seharusnya lebih mudah tersentuh daripada laki-laki sepertimu. Laki-laki macam apa kau ini? Ini buat bersihin ingusmu!”,  lanjut Min Tae masa ABG menggodanya seraya memberikan sapu tangannya dengan tersenyum manis walaupun di wajahnya terlihat jelas kalau sedang mengejek teman laki-lakinya itu.

Tentu saja Minho yang begitu menghayati cerita yang dibacanya langsung menghapus air matanya dengan cepat. “Apa-apaan kau ini? Siapa yang ingusan? Memangnya aku kalo menangis sepertimu apa?”, ketus Minho masih dengan matanya yang merah karena menangis dan mendorong tangan Min Tae yang menawarinya sapu tangan.

“Na? Memangnya kau pernah melihatku menangis? Sudahlah, mengaku saja!  Daritadi juga srat-srot gitu kan bunyinya? Kau pikir aku tak mendengarmu?”, Min Tae tertawa sambil menjulurkan lidahnya mengejek Minho.

“Dasar kau! Sudah sana pergi saja tak usah menggangguku!”, Minho mendorong Min Tae menyuruhnya menjauh.

Min Tae menertawakan Minho. “Dasar cengeng! Ini sapu tangannya di meja, gratis kok! Siapa tahu saja kau membutuhkannya! Kalau kau tak mau, nanti balikin saja ke rumahku!”, Min Tae berbalik berlalu menuju pintu keluar perpustakaan.

“Heh!! Siapa juga yang mau sapu tanganmu? Min Tae-ya…!!!”, kali ini suara Minho terdengar keras, namun Min Tae tak menghiraukannya.

“Sssssssstttttttt……..!!! Ribut sekali kau ini, kau tak melihat banyak orang membaca di sini! Kau pikir ini perpustakaan milik ayahmu?”, ketus seorang siswi yang juga sedang membaca di sana.

“Oh iya..mianhe!”, Minho kembali duduk dan memandangi sapu tangan biru yang diberikan Min Tae, kemudian tersenyum. “Aku simpan saja lah!”, batinnya.

Semenjak itu, Minho dan Min Tae menjadi akrab bahkan sangat dekat. Ketika pulang sekolah, mereka lebih memilih naik bis berdua daripada dijemput kedua orang tua masing-masing. Dan itu membuat Minho menyimpan perasaan untuk Min Tae. Entah perasaan apa, ia tak tahu. Karena waktu itu dirinya begitu mungil untuk mengerti arti cinta dan perasaan.

Hingga suatu saat, ketika Minho akan mengembalikan sapu tangan ke rumah Min Tae, ternyata Min Tae dan keluarganya telah meninggalkan kota ini dan pindah entah kemana tanpa ada kabar dari Min Tae sendiri. Sedih, kecewa, resah, benci, semua bercampur aduk jadi satu. Entahlah dirinya merasakan ada yang hilang dan merasa kecewa dengan kepergian Min Tae yang begitu mendadak tanpa mengabarinya apapun. Untuk saat ini Minho hanya berharap Min Tae akan menghubunginya suatu saat nanti. Ia selalu menunggunya. Dan bahkan sekarang telah merindukannya.

$ $ $

“Kita jadi ke toko bukunya, Minho-ya?”, Tanya Kibum, sahabatnya setelah mata kuliah hari ini usai.

“Iya, ada buku yang ingin ku cari Kibum-a!”, jawab Minho. “Siapa tahu saja aku nanti bertemu dengan Min Tae kan!”, lanjutnya.

“Min Tae lagi…Min Tae lagi…kau pikir Min Tae-mu ada dimana-mana?”, Kibum mencibir.

“Kau tahu Kibum-a, itu adalah salah satu keinginan besarku dari keinginan besar lainnya!! ”, matanya yang bulat menerawang ke atas membayangkan seandainya harapannya terkabul untuk bisa bertemu Min Tae. Bibirnya lalu tersenyum.

“Kau tak akan menjadi gila secepat itu kan Minho-ya? Aku jadi penasaran sama wajah Min Tae-mu itu, dari foto yang kulihat lumayan manis lah, apalagi sekarang ya? Pasti dia menjadi gadis yang cantik!”, Kibum terlihat membayangkan.

“Eits….tidak ada yang boleh membayangkan Min Tae selain aku! Ara?”, alis mata Minho berkerut kesal. Lalu mereka berdua saling tertawa.

$ $ $

Lima belas menit akhirnya mereka sampai di toko buku tujuan mereka. Keduanya berpencar, Minho mencari buku untuk sumber karya ilmiahnya, dan Kibum selalu saja memburu komik-komik favoritnya yang terbaru bulan ini. Ia terlalu mencintai komik.

Setelah mendapatkan apa yang dibutuhkan, Minho berjalan mencari Kibum. Langkahnya terhenti, matanya menangkap sosok orang yang sangat dikenalnya sedang ada di kasir. Entahlah tapi sepertinya dirinya tak asing dengan gadis yang sedang berdiri di sana. Wajahnya sangat familiar “Shin Min Tae!”, ucapnya pelan.

Kakinya melangkah menuju kasir, namun gadis yang dianggapnya sebagai Min Tae oleh Minho dan memakai blazer coklat tersebut melangkahkan kakinya dengan cepat, sepertinya sedang tergesa-gesa. Sekuat mungkin Minho menyusulnya. Minho ikut melangkahkan kakinya dengan cepat.

“Shin Min Tae…Min Tae-ya…..!” panggilnya dengan setengah berlari. Matanya terus mengikuti langkah orang yang dianggapnya sebagai Min Tae.

Kibum yang mendengar teriakan Minho menolehkan kepalanya dan ikut mengejar Minho dari belakang.

Minho terus memanggilnya namun suaranya tenggelam di tengah keramaian orang banyak sehingga tak begitu terdengar. Minho terus berlari mengikuti orang tersebut. Matanya tak pernah lepas dari objek yang sedang diikutinya. Tapi mengapa orang ini berjalan begitu cepat, dan membuat Minho lelah, langkahnya pun terhenti, matanya berkaca-kaca. Sedang rapuhkah dirinya? Apakah kuat keinginanya untuk bertemu dengan Shin Min Tae? Dan membuatnya terlihat seperti pria lemah. Ah….dia benci dengan keadaanya yang seperti ini.

Kibum yang sedari tadi ikut berlari mengikuti Minho terlihat sedang mengatur nafasnya yang tak beraturan. Lalu tangannya merangkul bahu Minho.

“Aku seperti orang gila ya Kibum-a? Apa aku harus menganggap semua orang itu mirip dengan Shin Min Tae? Aku pasti sudah benar-benar gila!”, Minho terlihat rapuh.

“Baiklah, sepertinya kita harus makan makanan yang mahal. Sepertinya kau sedang kelaparan Minho-ya, sampai-sampai penglihatanmu itu agak sedikit terganggu ! Kajja!”, Kibum benar-benar bingung apa yang harus dilakukan untuk sahabatnya saat ini. Baiklah kalau memang benar-benar Shin Min Tae itu telah kembali, dia hanya bisa berharap Minho bisa menemuinya sesegera mungkin.

$ $ $

Seperti biasa, dikala hati sedih dan sepi Minho melarikan hatinya dan menghibur diri dengan bergabung di salah satu jejaring sosial dengan I-pad kesayangannya. Terkadang status-status temannya itu membuat Minho tertawa dan juga saling bersapa dengan teman-temannya yang sekarang kuliah di kota dan Negara yang berbeda-beda, itu cukup membuat dirinya terhibur dan melupakan masalahnya.

Matanya memandang ke arah inbox yang tak pernah dibukanya. Tangannya dengan lincah memindahkan kursor ke arah inbox lalu mengkliknya. Siapa tau ada pesan dari sahabat-sahabat lamanya.

Benar saja, ada pesan dari Lee Jinki, sahabat SMP-nya yang sekarang kuliah kedokteran di Jerman menanyakan kabarnya. Lalu di bawah pesan Jinki ada juga pesan dari seseorang yang tak akan pernah dilupakan Minho, Shin Min Tae, jelas sekali namanya tertulis.

Matanya tak berkedip sedikitpun, terus menatap ke pesan tersebut lalu mencubit pipinya seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Yah…dirinya tak sedang bermimpi, itu benar-benar pesan dari Shin Min Tae, orang yang selama 5 tahun ini sedang dicari dan dirindukannya. Tak ragu-ragu Minho pun mengklik pesan tersebut dan membacanya.

Annyeong Minho-ya! Kau masih mengingatku?

Bagaimana kabarmu? Bisa kirim nomor ponselmumu?

Singkat, jelas dan padat namun sangat berarti sekali untuk Minho saat ini, orang yang benar-benar merindukan Shin Min Tae. Dan yang membuat Minho sedikit menyesal, hampir tiap malam dia membuka jejaring sosialnya itu, tapi kenapa tak pernah terpikir untuk membuka inboxnya. Sedangkan pesan itu sudah dikirim 3 hari yang lalu oleh Min Tae.

Dengan lincah tangannya mengetik tombol-tombol huruf di I-pad-nya untuk membalas pesan tersebut.

Annyeong Min Tae-ya! Kau kemana saja? Ini nomorku 010-775-942XX…

Aku menunggu teleponmuJ

Ada senyum bahagia disana. Memang semua tergantung waktu, pasti ada saatnya kita akan dihadapkan dengan harapan nyata yang datang tak diduga. Tak sabar rasanya, kapan Min Tae akan membalas pesannya.

Link halaman Shin Min Tae diklik olehnya. Ada foto profil Shin Min Tae disana beserta infonya. Tak berbeda dengan masa SMP dulu, wajah Min Tae masih terlihat manis. Ternyata Min Tae sekarang melanjutkan kuliahnya di Paris jurusan design. WHAT A WONDERFUL THIS WORLD…!!!

$ $ $

Tiga  hari setelah Minho membaca pesan dari Min Tae, pikirannya tak pernah lepas dari Shin Min Tae. Malam ini Minho sedang berbaring di tempat tidurnya, ponsel disampingnya terus diamati. Mengapa sampai sekarang Min Tae tak juga meneleponya, padahal nomor ponselnya pasti sudah diterima oleh Min Tae. Begitulah pikir Minho saat ini.

Baru saja matanya akan terpejam, ponsel di genggaman tangannya berdering. Nomor baru tertera di layar.

“Yobseyo? Ini Choi Minho. Dengan siapa ini?”

“Minho-ya! Choi Minho! Ini aku Shin Min Tae, kau tak melupakanku begitu saja kan? Ah…sepertinya kau sudah tumbuh menjadi dewasa ya? Suaramu parau sekali! Kau tahu aku benar-benar merindukanmu!”, cara bicara Min Tae masih sama. Cepat dan menggemaskan.

Minho terdiam sejenak tak bisa berkata-kata. Apakah ia begitu bahagia bisa mendengarkan suara milik seseorang yang selama ini selalu ada di pikirannya dan terus dicarinya? Bahkan sekarang suara itu sedang memanggilnya dan mengatakan rindu padanya.

“Ya..! Shin Min Tae yang mana ya? Aku tak ingat padamu!”, Minho mencoba mengerjai Min Tae.

“Hmm….jadi begitu? Baiklah aku akan menutup telpon kalau kau mengatakan tak ingat padaku!”, ancam Min Tae dari seberang sana.

“Ya…kenapa aku harus ingat pada orang yang pergi begitu saja tanpa mengabarkan apapun padaku? Kau pikir itu menyenangkan untuk diingat? Kau tahu tidak, aku sangat merindukanmu Min Tae-ya tapi aku tetap marah padamu!”, kata-kata itu keluar begitu saja dari bibir Minho. Memang begitulah kenyataanya, ia benar-benar sangat merindukan gadis yang saat ini sedang berbicara denganya di telpon.

“Jadi kau merindukanku, Choi Minho? Ah…aku tak menyesal jadinya karena menelponmu. Jangan marah begitu Minho-ya, aku akan menceritakannya nanti kalau kita bertemu. Mianhe. Jadi bagaimana kabarmu, Minho-ya?”

Mereka berdua pun terlarut dalam pembicaraan yang begitu seru dan pastinya menyenangkan. Setelah 5 tahun, baru inilah pertama kalinya mereka saling berbicara lagi. Dan ini sangat berarti bagi Minho dan sangat-sangat berarti dalam hidupnya. Suara gadis itu benar-benar mengubah dunianya dalam sekejap menjadi begitu bahagia.

Ternyata sekarang Min Tae pulang dari Paris dalam rangka liburan semester. Jadi mereka berdua punya banyak waktulah setidaknya untuk saling melepas rindu. Mereka memutuskan untuk bertemu besok. Ah…semua memang akan indah pada waktunya!

“Kita bertemu di kafe tempat Jonghyun hyung saja, kakak kelas kita waktu SMP. Kau ingat? Kebetulan kemarin aku bertemu dengannya, dan hyung menyuruhku untuk berkunjung ke kafenya kalau ada waktu. Kamu mau aku jemput atau kita bertemu disana?”

“Kita bertemu di sana aja, aku ingin memberikanmu kejutan nanti! Ah…aku jadi penasaran denganmu. Kau tambah apa Minho-ya?”, rasanya belum terlalu siap buat Min Tae untuk bertemu Minho lebih cepat bila ia menjenguknya. Biar saja menjadi kejutan di kafe nanti.

“Hmm…tambah apa ya? Yang pasti aku menjadi lebih tampan dari apa yang kau pikirkan! Lihat saja besok, kau pasti akan terpesona dengan wajah tampanku”

“Narsis sekali dirimu! Aku mengantuk, sampai bertemu besok Minho-ya!”

“Baiklah kalau begitu! Sampai bertemu besok Min Tae-ya. Jaljja!”, suara Minho terdengar dewasa di telinga Min Tae.

“Jaljja Minho-ya! Bogoshipeo!”, Min Tae langsung memutuskan sambungan telepon dari ponselnya. Wajah Min Tae begitu ceria malam ini. Apakah ia begitu bahagia bisa bertemu dengan Minho pada akhirnya setelah begitu banyak ia merindukannya.

“Minho-ya, andai saja kau tahu aku pergi berobat untuk penyakit jantungku dulu. Malang sekali bukan seorang gadis SMP sudah mengidap penyakit jantung sepertiku? Tapi sekarang aku akan memperlihatkan padamu, kalau aku sekarang benar-benar sudah sehat dan bersih dari penyakitku”, batin Shin Min Tae lalu tersenyum dan mencoba memejamkan matanya membayangkan bagaimana besok jika dirinya bertemu Minho. Ya…Choi Minho adalah cinta pertamanya.

$ $ $

Seperti yang telah ditentukan,  jam 2 siang Minho sudah datang di kafe dan menunggu Shin Min Tae. Ia tak ingin telat. Biar saja Min Tae yang telat, karena itu tak akan membuatnya kecewa. Lantunan nada indah dari 2NE1 “Lonely” mengalun indah melengkapi suasana kafe yang bernuansa elegan saat ini.

Kenapa harus lagu ini yang diputar? Seakan tahu saja bahwa Minho memang sedang sendiri menunggu seseorang yang benar-benar dinantinya.  Minho tak ambil pusing, toh hanya sebuah lagu. Ia tersenyum lalu menyeruput jus orange yang sudah dipesannya.

“Minho-ya! Kau ke sini mengapa tak menghubungiku?”, Kim Jonghyun mengagetkan Minho.

“Jonghyun hyung? Tadinya aku akan menemuimu jika aku sudah ada di sini. Tapi aku tanya pada pegawaimu katanya kau belum datang hyung! Mianhe hyung, bagaimana kabarmu hyung?”, ujar Minho sedikit melupakan kepenatanya menunggu Min Tae yang tak kunjung datang.

“Seperti yang kau lihat Minho-ya! Aku selalu bahagia dengan semua yang aku punya, tapi hanya satu yang belum terlengkapi. Kau tahu apa?”, Tanya Jonghyun mendekatkan wajahnya ke arah Minho.

“Apa hyung?”, respon Minho.

“Wanita, aku rasa aku membutuhkanya sekarang. Tapi aku belum mendapatkan satupun, ah bukan…sepertinya mereka yang tak tertarik pada pria tampan ini”, senyum Jonghyun melebar.

“Hahaha…kau ada-ada saja hyung! Bukan belum mendapatkan hyung, Tuhan belum mengizinkanmu untuk mencintai yang tepat. Mungkin kau terlalu baik untuk seseorang yang salah”, Minho mendadak menjadi bijaksana.

“Sejak kapan bicaramu menjadi bijaksana seperti itu Minho-ya? Kau membuatku terkesima. Kau sedang menunggu siapa?”

“Aku? Aku menunggu seseorang hyung, nanti akan aku tunjukkan padamu. Kau pasti tahu siapa dia”, Minho sedikit terlihat gelisah.

“Pasti seorang wanita kan? Aku mengenalnya? Ah….kau membuatku penasaran saja. Baiklah, aku tinggal dulu ke dalam ya. Nanti kalau kau sudah bertemu dengannya, kau harus langsung memanggilku. Araseo?”

“Keurom….aku akan memanggilmu hyung. Tunggu saja nanti”

Jonghyun beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan Minho yang kembali melanjutkan kegiatanya menunggu Min Tae yang belum juga datang bahkan tak menghubunginya. Ini sudah hampir 20 menit Minho menunggu, tapi mengapa Min Tae tak datang juga sampai sekarang. Padahal 10 menit yang lalu, Min Tae mengirimkan pesan bahwa dirinya sekarang dalam perjalanan menuju kafe. Ia tak ingin berpikiran buruk tentang Min Tae. Siapa tahu di jalan sedang macet. Baiklah ia akan tetap menunggu.

Minho terlihat bosan namun terus menyemangati dirinya bahwa Shin Min Tae pasti akan datang. Sesekali diseruputnya  jus orange di mejanya sambil mengamati terus ponsel di genggamannya, semoga Min Tae memberinya kabar bila ada yang terjadi.

Waktu terus berjalan, detik demi detik terlewati. Tepat satu jam sudah Minho menunggu di kafe, namun Min Tae tak juga datang. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa Min Tae tak datang bahkan juga tak mengabarinya? Mengapa semua yang disangka akan berakhir bahagia akan begini jadinya? Keadaan ini membuat Minho kecewa, resah dan gelisah. Apakah ia harus kecewa lagi? Apa memang hidupnya saat ini ditakdirkan untuk dikecewakan?

Akhirnya Minho beranjak dari tempat duduknya. Membayar bill lalu melangkahkan kaki meninggalkan kafe. Ia tak langsung menuju tempat dimana mobilnya terparkir. Minho sedang ingin melangkahkan kakinya kemana saja kakinya ini membawa.  Terlalu mengecewakan untuk Minho yang sedang begitu berharap.

Saat ini dia hanya ingin sendiri.  Kakinya terus menyusuri trotoar sepanjang jalan. Ada air mata disana, entah air mata kekecewaan atau air mata kerinduan yang begitu mendalam. Namun dalam hatinya selalu berdoa, semoga Min Tae dalam keadaan baik-baik saja seperti yang diharapkan selama ini. Minho tak habis pikir mengapa semuanya jadi mengecewakan seperti ini. Mungkinkah dirinya ditakdirkan hanya untuk mendengar suara Min Tae bukan untuk bertatap muka? Entahlah….Minho sedang tak ingin memikirkan apapun saat ini.

$ $ $

Di sebuah rumah di suatu siang menjelang sore ini terlihat begitu ramai namun tak membuat keramaian. Kecelakaan mobil sekitar pukul 13.50 siang tadi, mengakibatkan salah satu anggota keluarga ini pergi untuk selama-lamanya. Ada kesedihan yang tersirat dari setiap wajah orang-orang yang ada di sana, baik keluarga korban ataupun yang berdatangan ke sana untuk berduka cita. Langit pun terlihat mendung seolah ikut bersedih akan kehilangannya seseorang yang begitu mereka cintai dan sayangi.

Sebuah karangan bunga di halaman rumah bertuliskan “Turut berduka cita atas meninggalnya SHIN MIN TAE. Semoga diterima di sisi Yang Maha Kuasa”.

END

Pernah dipost di http://shiningstory.wordpress.com/2013/04/16/missing-you/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s